Susu, juga dikenal sebagai asosiasi simpan pinjam bergilir (ROSCA), adalah tradisi budaya yang telah diturunkan dari generasi ke generasi di banyak komunitas Afrika dan Karibia. Praktik ini melibatkan sekelompok individu yang berkumpul untuk menyumbangkan sejumlah uang secara teratur, dan masing-masing anggota secara bergiliran menerima jumlah tersebut. Susu berasal dari Afrika dan telah dipraktikkan selama berabad-abad sebagai cara untuk mengumpulkan sumber daya dan mendukung satu sama lain pada saat dibutuhkan.
Asal usul Susu dapat ditelusuri kembali ke suku Akan di Ghana, yang dikenal sebagai “sikasem”. Kata “susu” sendiri berasal dari bahasa Twi yang diucapkan oleh masyarakat Akan dan berarti “rencana” atau “mengesampingkan sesuatu”. Dalam masyarakat tradisional Akan, susu digunakan sebagai sarana menabung dan berinvestasi dalam proyek-proyek masyarakat, seperti pembangunan sekolah atau memulai bisnis. Ini juga merupakan cara bagi individu untuk saling mendukung secara finansial selama masa-masa sulit, seperti sakit atau kematian.
Ketika komunitas Afrika tersebar melalui perdagangan budak transatlantik, praktik susu ikut menyebar ke Karibia dan Amerika. Di negara-negara seperti Jamaika, Trinidad, dan Haiti, susu berevolusi untuk memenuhi kebutuhan komunitas diaspora, berfungsi sebagai bentuk perbankan informal dan sistem pinjaman. Di komunitas-komunitas ini, susu tidak hanya menjadi sarana dukungan finansial, namun juga cara untuk menjaga ikatan budaya dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Saat ini, susu terus menjadi bagian penting dari banyak komunitas Afrika dan Karibia di seluruh dunia. Meskipun praktik tradisional mengumpulkan uang dalam kelompok masih populer, teknologi modern juga berperan dalam mengembangkan susu menuju era digital. Dalam beberapa tahun terakhir, platform online dan aplikasi seluler memudahkan individu untuk berpartisipasi dalam kelompok susu, terlepas dari lokasi fisik mereka.
Relevansi susu dalam masyarakat saat ini tidak bisa dilebih-lebihkan. Di dunia di mana sistem perbankan tradisional tidak selalu dapat diakses atau diandalkan, susu menyediakan cara bagi individu untuk menabung, berinvestasi, dan mendukung satu sama lain dengan cara yang bermakna secara budaya dan berfokus pada komunitas. Hal ini juga menjadi pengingat akan pentingnya tindakan kolektif dan saling mendukung dalam membangun komunitas yang kuat dan tangguh.
Saat kami terus menelusuri asal usul dan evolusi susu, jelas bahwa tradisi budaya ini memiliki relevansi yang bertahan lama di dunia modern. Dengan melestarikan dan mengadaptasi praktik ini untuk generasi mendatang, kami dapat memastikan bahwa semangat komunitas dan kerja sama yang diwujudkan susu akan terus tumbuh subur di tahun-tahun mendatang.
